Selamat malam, para penggulir layar dan pecinta sensasi jantung berdebar!
Pernahkah Anda membayar tagihan ponsel dengan… nyawa Anda sendiri?
Atau bertanya-tanya, bagaimana rasanya jika setiap notifikasi yang masuk sebenarnya adalah monster yang siap menerkam dari balik layar?
Jika ya—atau bahkan jika tidak—izinkan saya mengajak Anda memasuki dunia yang sangat dekat dengan keseharian kita, tetapi dibalut dengan rasa takut yang begitu… nyata.
Hari ini, kita akan membuka aplikasi media sosial yang paling mengerikan yang pernah ada. Selamat datang di BrokenLore: UNFOLLOW. Siapkan charger, tapi jangan harap sinyal Anda akan membantu. Di sini, yang menunggu bukanlah like, melainkan liang lahat.
Ketika Followers Menghantui Sekilas Tentang Sang Tamu
BrokenLore: UNFOLLOW adalah game first-person psychological horror garapan Serafini Productions dan diterbitkan oleh Shochiku Games—ya, perusahaan film legendaris asal Jepang yang kini merambah dunia game.
Game ini resmi dirilis di Steam, PlayStation 5, dan Xbox Series X|S pada 16 Januari 2026. Harganya dibanderol sekitar $19.99 (sekitar Rp 320.000) untuk edisi standar, dan $24.99 untuk edisi Deluxe yang menyertakan soundtrack, kucing peliharaan yang bisa di-elus, serta ending tambahan.
Tapi tunggu dulu—ini bukan sekadar game horor biasa.
Game ini adalah yang ketiga dalam seri BrokenLore, setelah sebelumnya ada DON’T WATCH. Namun kabar baiknya: Anda tidak perlu memainkan game sebelumnya untuk menikmati UNFOLLOW. Ceritanya berdiri sendiri, meskipun ada benang merah yang menghubungkan semuanya bagi para penggemar setia.
Anne dan Dunia yang Tidak Mau Melepaskannya
Kita berperan sebagai Anne, seorang gadis muda yang terbangun di dalam sebuah rumah sunyi tanpa ingatan sedikit pun—berapa lama ia tidak sadarkan diri, atau apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Yang ia tahu? Ada YouTuber favoritnya, Akidearest, yang membutuhkan pertolongannya.
Dan satu-satunya jalan keluar dari rumah mengerikan ini adalah dengan menghadapi pilihan paling menyakitkan dari masa lalunya.
Tapi Anne tidak sendirian.
Ada… sesuatu yang berkeliaran di lorong-lorong gelap. Makhluk aneh, menggelikan, dan sangat, sangat menginginkan Anne.
Sepanjang perjalanan, Anne harus bergulat dengan berbagai trauma masa remajanya: tekanan orang tua yang tidak pernah puas, perundungan (bullying) yang membekas di kulit, hingga obsesi terhadap berat badan yang digambarkan dengan sangat gamblang—bahkan ketika ia mengambil sekotak susu dari kulkas, angka kalori langsung muncul di layar, seperti vonis tanpa ampun.
Game ini tidak main-main dengan isu berat. Body dysmorphia, tekanan sosial, isolasi emosional—semua disajikan dalam bungkus horor yang mencekik.
Kekuatan Ponsel Antara Senjata dan Kutukan
Salah satu elemen paling unik di BrokenLore: UNFOLLOW adalah ponsel Anne.
Bukan sekadar alat untuk membaca notifikasi. Di dunia mimpi buruk ini, ponsel berubah menjadi sesuatu yang lebih… mematikan.
Bayangkan: setiap kali Anne mengambil sebuah item di lingkungan sekitarnya, tiba-tiba angka follower muncul di layar. Naik. Turun. Tanpa permisi. Seperti sorot mata publik yang menghakimi setiap gerak-gerik Anda.
Dan di tahap-tahap akhir game? Ponsel itu bahkan bisa menjadi senjata—memancarkan ledakan energi untuk melawan gerombolan manekin yang melambangkan para troll anonim di dunia maya.
Kreator game, Sebastiano Serafini, menjelaskan bahwa ponsel adalah “simbol inti” dari game ini—mewakili bagaimana kata-kata di media sosial memiliki kekuatan yang nyata, entah untuk menyelamatkan atau menghancurkan.
Bintang Tamu Wajah-Wajah yang Mungkin Anda Kenal
Ini yang membuat BrokenLore: UNFOLLOW terasa sangat… dekat dengan kenyataan.
Game ini menghadirkan influencer sungguhan sebagai karakter di dalam cerita. Beberapa di antaranya adalah Akidearest (YouTuber anime terkenal), Knite, The Sphere Hunter, dan lainnya.
Keputusan ini menuai pro dan kontra.
Di satu sisi, kehadiran mereka membantu menangkap sisi kelam dari kehidupan sebagai seorang creator—tekanan, cyberbullying, dan tuntutan untuk selalu tampil sempurna. Serafini sendiri mengaku merefleksikan pengalaman pribadinya sebagai mantan influencer saat menulis cerita ini.
Di sisi lain, bagi Anda yang kurang familiar dengan mereka, atau bahkan kurang suka, kehadiran figur nyata ini bisa terasa janggal—bahkan kontradiktif dengan pesan “jauhi media sosial” yang coba disampaikan game.
Gameplay Jalan-Jalan Sambil Dikejar Trauma
Secara mekanik, BrokenLore: UNFOLLOW* masuk dalam genre “walking simulator dengan sentuhan stealth”.
Apa artinya?
90 persen waktu Anda akan dihabiskan untuk:
- Berjalan menyusuri lingkungan yang indah tapi mencekam.
- Mengambil barang yang berserakan untuk memecahkan teka-teki sederhana.
- Membaca catatan, skrip, dan buku harian yang mengungkap masa lalu Anne.
Dan sisanya? Anda akan dikejar.
Pengejaran di sini bukanlah aksi serampangan. Setiap monster yang mengejar Anne melambangkan trauma tertentu dari masa lalunya. Ada makhluk aneh berkepala ular yang terus meminta makan. Ada bayangan yang mungkin adalah ibunya sendiri, atau neneknya, atau pelaku bullying di sekolah.
Masalahnya? Pola pengejaran ini cepat terasa repetitif.
Anda akan mulai bisa menebak: “Oh, ini ruangan baru. Pasti bentar lagi ada adegan kejar-kejaran.” Dan begitu tebakan Anda benar, rasa takutnya… perlahan memudar, berganti dengan rasa sedikit jengkel.
Yang Bikin Betah Atmosfer, Musik, dan Cerita yang Berani
Meskipun gameplay-nya biasa saja, ada beberapa elemen yang membuat BrokenLore: UNFOLLOW* layak diapresiasi.
Atmosfernya benar-benar mencekik. Desain lingkungan yang megah tapi terasa kosong, pencahayaan yang gelap dan menyesakkan, serta suara-suara aneh dari balik dinding—semuanya bekerja sama menciptakan ketegangan.
Musiknya juga patut diacungi jempol, dengan orkestrasi dramatis yang muncul tepat saat dibutuhkan.
Namun yang paling kuat adalah keberanian tematiknya. Game ini tidak sekadar menampilkan monster lalu lupa. Monster-monster itu bermakna. Setiap kejar-kejaran, setiap jeritan, setiap bayangan—semua adalah representasi dari luka batin yang nyata.
Dan kabar baiknya: setelah melewati babak-babak awal yang terasa klise, game ini mulai menemukan ritmenya di babak kedua, dengan pesan yang mulai tersampaikan dengan lebih koheren.
Kekurangan “Kok Begitu Terus?!” dan Masalah Teknis
Tidak ada gading yang tak retak. BrokenLore: UNFOLLOW* punya beberapa masalah yang cukup mengganggu.
1. Repetisi, Repetisi, Repetisi
Seperti sudah disinggung, kejar-kejaran yang itu-itu saja cepat membuat bosan. Anda akan menghadapi pola yang sama berulang kali—lari, bersembunyi di balik rak, tunggu monster lewat, lalu lari lagi.
2. Jumpscare yang (Agak) Murahan
Di awal-awal game, Anda akan sering dikejutkan oleh suara keras dan gambar menyeramkan yang muncul tiba-tiba. Setelah 5-6 kali, efeknya… hilang. Yang tersisa hanya rasa jengah.
3. Kontrol yang Terasa “Minyak”
Beberapa pemain melaporkan bahwa kontrol kamera terasa delay—seperti menggerakkan kamera di atas lapisan minyak. Ini sangat mengganggu saat Anda panik dikejar monster.
4. Durasi Pendek
Game ini hanya bisa diselesaikan dalam sekitar 2-4 jam. Untuk harga $20, beberapa orang mungkin merasa kurang puas.
5. Alur Cerita yang Kadang Ambigu
Ada beberapa benang merah misteri yang terasa tidak nyambung dengan narasi utama. Anda akan bertanya-tanya, “Ini penting untuk cerita atau cuma pemanis?”
Yang Perlu Anda Tahu Spesifikasi dan Performa
Jika tertarik mencoba, pastikan PC Anda memenuhi syarat:
Minimum (1080p, 30-40 FPS):
- Prosesor: Ryzen 5 2600X / Core i5-8600
- RAM: 8 GB
- Grafis: RX 5700 / GTX 1070
- Penyimpanan: 15 GB
Rekomendasi (60+ FPS):
- Prosesor: Ryzen 5 5600X / Core i5-11600K
- RAM: 16 GB
- Grafis: RX 6700 XT / RTX 4060
Catatan: Beberapa reviewer melaporkan stuttering (gagap) di area-area tertentu meskipun dengan spesifikasi di atas rekomendasi. Jadi bersiaplah untuk sedikit ketidaknyamanan teknis.
Like atau Unfollow?
BrokenLore: UNFOLLOW adalah game yang sulit dinilai dengan satu angka.
Ia adalah konsep brilian yang dieksekusi dengan kaki kiri. Puisinya indah, tapi nadanya kadang sumbang.
Dengan skor agregat di kisaran 6.5-7/10 dari berbagai kritikus, game ini jelas bukan GOTY. Tapi ia juga bukan sampah yang layak dibuang.
Nilai terbesarnya bukan pada mekanik permainannya, melainkan pada keberaniannya berbicara.
BELI jika:
- Anda peduli dengan isu kesehatan mental dan ingin melihatnya dieksplorasi secara artistik.
- Anda adalah penggemar walking simulator dengan atmosfer kuat (seperti Layers of Fear atau Visage).
- Anda mengenal dan menyukai para influencer yang muncul di game.
- Anda tidak masalah dengan durasi pendek dan repetisi.
LEWATI dulu jika:
- Anda mencari gameplay yang inovatif atau sistem pertarungan yang rumit.
- Jumpscare membuat Anda lebih kesal daripada takut.
- Anda punya血压 tinggi (hipertensi) dan mudah frustrasi dengan pengejaran berulang.
- Uang Anda terbatas dan ingin membeli game dengan nilai main ulang yang tinggi.
BrokenLore: UNFOLLOW mengingatkan kita bahwa di balik setiap layar ponsel, ada manusia nyata dengan luka nyata. Bahwa kata-kata di kolom komentar tidak pernah hanya “sekadar kata-kata”. Dan bahwa kadang-kadang, untuk bisa selamat, kita harus berani… unfollow.
Bukan aplikasinya. Tapi rasa takut yang selama ini membelenggu.
Selamat bermain, para pemberani. Dan jangan lupa untuk mengelus kucingnya—karena di tengah semua kekacauan itu, setidaknya ada satu makhluk yang masih mau menemani Anda dengan setia.