Selamat malam, para pencari tantangan sejati!

Pernahkah Anda merasa bahwa game-game masa kini terlalu… ramah? Terlalu banyak petunjuk, terlalu banyak cahaya, terlalu banyak “maaf, kamu gagal, coba lagi dengan lebih mudah”?

Jika Anda mengangguk pelan sambil merenung, mungkin Anda adalah tipe pemain yang merindukan sensasi jati diri seorang petualang: jatuh, bangkit, belajar, lalu jatuh lagi—bukan karena game-nya jahat, tapi karena memang Anda yang belum cukup mahir.

Hari ini, saya ingin memperkenalkan Anda pada sebuah lukisan kelam yang bergerak. Sebuah dunia di mana setiap sudutnya menjanjikan kematian, tetapi setiap kematian mengajarkan sesuatu. Selamat datang di VELASTER.

Duduklah, tegakkan punggung Anda, karena di sini, lengah sedikit saja, Anda akan kembali ke checkpoint terakhir.

Seni Membatasi Diri Ketika 2D Lebih Mematikan

VELASTER adalah game 2.5D side-scrolling action combat yang lahir dari tangan empat orang di studio indie Odysseyer. Game ini resmi memasuki tahap Early Access pada 14 Januari 2026 dan langsung mencuri perhatian para penggemar genre Soulslike.

Mengapa?

Karena di tengah banjir game 3D yang saling meniru formula Dark Souls, VELASTER memilih jalan yang berbeda: kembali ke dasar.

Bayangkan Dark Souls, tetapi kamera tidak bisa Anda putar-putar. Tidak ada celah untuk “curang” dengan melihat sudut yang tidak seharusnya. Yang ada hanya Anda, musuh di depan mata, dan bidang dua dimensi yang sempit.

Sebuah ulasan dari Inverse menyebut bahwa justru di sinilah letak kejeniusan VELASTER. Dengan perspektif yang terbatas, game ini memaksa Anda untuk:

  • Membaca pola musuh secara murni, tanpa trik kamera.
  • Mengatur jarak dengan presisi milimeter.
  • Mempercayai insting karena tidak ada tempat untuk bersembunyi di balik sudut.

Ini adalah filosofi desain yang berani: dengan membatasi ruang gerak pemain, justru pengalaman bertarung terasa lebih intens dan personal.

Dendam yang Tak Pernah Padam Kisah di Balik Malum

“Kamu tidak tahu siapa dirimu. Kamu tidak tahu di mana kamu berada. Yang kamu tahu… ada belati yang menusuk jantungmu di istana yang menjulang di kejauhan.”

Begitulah kira-kira undangan yang diberikan VELASTER kepada Anda di awal permainan.

Anda berperan sebagai Velaster, seorang pejuang yang terdampar di Malum—sebuah “dunia tengah” yang diciptakan dari ambisi angel dan iblis yang tidak bisa hidup damai di alam mereka sendiri. Mereka merenggut sebagian dari dunia manusia, menciptakan Malum sebagai tempat kompromi. Namun, kompromi itu runtuh. Yang tersisa hanyalah perang, darah, belatung, dan bumi yang membusuk karena terlalu banyak menimbun mayat.

Misi Anda sederhana di atas kertas: balas dendam kepada seseorang atau sesuatu di puncak istana itu.

Tapi seperti kata pepatah, perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah. Dan langkah pertama Anda di Malum… kemungkinan besar akan berakhir dengan kematian.

Tiga Jiwa, Tiga Cara Mengoyak Musuh

Salah satu keunggulan VELASTER adalah keberagaman gaya bermain yang ditawarkan sejak menit pertama. Anda bisa memilih satu dari tiga karakter yang tersedia:

1. The Knight: Si Dinding Berjalan

Mengusung pedang dan perisai, karakter ini adalah pilihan paling ramah untuk pemula (sekalipun kata “ramah” di game ini relatif). Perisainya sangat pemaaf—Anda bisa bertahan dari serangan yang seharusnya mematikan asalkan Anda punya stamina.

Saran saya: Mulailah dari sini jika Anda baru pertama kali terjun ke genre Soulslike.

2. The Dual Sword: Angin yang Menusuk

Dua pedang. Satu tubuh. Kecepatan yang mabuk kepayang. Gaya bermain ini mengorbankan pertahanan demi serangan kilat yang bisa memotong musuh sebelum mereka sempat berkedip.

Cocok untuk Anda yang lebih suka “menari” di medan perang daripada bersembunyi di balik perisai.

3. The Hammer: Satu Pukul, Selesai

Dia besar. Dia lambat. Dan ketika hantaman hammer-nya mendarat, kepala musuh akan terbang entah ke mana. Karakter ini adalah definisi “high risk, high reward”.

Jika Anda tipe pemain yang sabar menunggu satu momen tepat untuk menghancurkan segalanya, inilah jiwa Anda.

Yang menarik, setiap karakter memiliki skill tree, kombo, dan kemampuan uniknya masing-masing. Ini memberi nilai ulang yang luar biasa—Anda bisa menyelesaikan game tiga kali dengan pengalaman yang benar-benar berbeda.

Jatuh, Bangun, Belajar Filosofi Kematian yang Bermakna

Jika Anda mencari game di mana Anda bisa “mengamuk” tanpa berpikir, VELASTER bukan untuk Anda.

Game ini dibangun di atas fondasi klasik genre Soulslike:

  • Stamina-based combat: Setiap ayunan pedang, setiap gulingan, setiap blok menghabiskan stamina. Kehabisan stamina di saat yang salah = kematian.
  • Checkpoint yang jarang: Anda tidak bisa menyimpan setiap saat. Maju terlalu jauh tanpa menemukan save point, lalu mati? Kembali ke awal lagi.
  • Musuh yang tidak memberi ampun: Bahkan musuh paling dasar pun punya pola serangan yang bisa membunuh Anda jika Anda meremehkannya.

Tapi inilah yang membuat VELASTER istimewa: kematian di sini tidak pernah terasa tidak adil.

Setiap kali Anda mati, Anda tahu persis kesalahan Anda: terlalu rakus menyerang, salah membaca pola, atau lengah karena lengah. Game ini seperti guru yang keras tetapi jujur. Ia tidak akan menghukum Anda tanpa alasan.

Melampaui Rintangan Bos yang “Menyiksa” dengan Elegan

Pengembang Odysseyer menyatakan satu hal dengan tegas di halaman Kickstarter mereka: “Melawan bos adalah hal terpenting bagi kami”.

Dan mereka tidak bercanda.

Ada sekitar 10 desain bos yang tersedia di versi Early Access saat ini. Mulai dari tikus kerangka raksasa yang menggelikan sekaligus mematikan, hingga barbar kekar dengan kapak yang terbungkus usus musuh-musuhnya yang gugur.

Yang membuat pertarungan bos di VELASTER terasa segar adalah variasi pola serangan yang “menjebak”. Sama seperti yang dijanjikan pengembang, saat Anda merasa sudah bisa memprediksi gerakan bos… tiba-tiba ia mengeluarkan serangan baru yang sama sekali berbeda.

Anda akan mati. Anda akan frustrasi. Tapi setiap kali Anda bangkit, Anda membawa sedikit lebih banyak pengetahuan tentang celah musuh Anda.

Senyap dan Sepi Atmosfer yang Menyesakkan

Salah satu elemen yang paling membuat VELASTER “hidup” adalah sajian audiovisualnya.

Secara visual, game ini memilih jalur 2.5D—gaya cel-shaded yang gelap, dengan palet warna terbatas yang sengaja dibuat muram. Setiap reruntuhan, setiap bayangan, setiap sudut yang remang-remang terasa seperti sedang menatap balik ke arah Anda.

Secara auditif, skor musiknya tidak pernah “ramai”. Ia lebih suka diam dan hanya muncul saat diperlukan—menciptakan keheningan yang justru lebih mencekik daripada kebisingan.

Sebuah ulasan menyebutkan bahwa pengalaman bermain VELASTER terasa sangat lonely—Anda sendirian di dunia yang tidak menginginkan kehadiran Anda. Dan entah mengapa, justru di situlah letak keindahannya.

Kekurangan yang Patut Anda Ketahui

Tentu saja, tidak ada yang sempurna di dunia ini—termasuk VELASTER. Sebagai game Early Access dari tim kecil, ia memiliki beberapa kekurangan yang perlu Anda pertimbangkan:

1. Cerita yang “Layanan” (atau Membosankan)

Ini adalah keluhan yang paling sering muncul. Cerita VELASTER digambarkan sebagai “serviceable, if a bit bland” (cukup untuk melayani, tetapi agak hambar).
Motivasi tokoh tidak terlalu jelas. Anda mungkin akan lebih fokus pada bertahan hidup daripada mengikuti alur cerita.

2. Performa yang Belum Stabil

Beberapa pemain melaporkan frame drop di area-area tertentu, terutama saat efek visual sedang ramai-ramainya. Pengembang perlu bekerja lebih keras untuk optimalisasi.

3. Batasan Early Access

Karena masih dalam tahap pengembangan, konten yang tersedia masih terbatas. Jika Anda bermain terlalu intens, Anda mungkin akan “kehabisan” hal baru setelah sekitar 10-15 jam.

Harga dan Ketersediaan Terjangkau untuk Pengalaman Premium

VELASTER tersedia di Steam dengan harga Rp 99.999 (sekitar $10.99 USD).

Dibandingkan dengan game Soulslike lain yang harganya bisa mencapai tiga kali lipat, VELASTER menawarkan nilai yang cukup sepadan—terutama jika Anda adalah penggemar berat genre ini dan tidak keberatan dengan Early Access.

Di Indonesia, harga ini termasuk yang paling murah kedua di dunia (setelah India dan Ukraina). Sayangnya, saya tidak menemukan informasi diskon spesifik untuk wilayah Indonesia saat artikel ini ditulis.

Apakah VELASTER Layak Mencuri Waktu Anda?

VELASTER bukanlah game untuk semua orang. Jika Anda:

  • Mudah frustrasi dengan kematian berulang.
  • Lebih suka game yang “memegang tangan” pemain.
  • Mementingkan cerita yang cinematic dan memukau.

…mungkin Anda perlu berpikir dua kali.

Namun, jika Anda adalah tipe pemain yang:

  • Mencari tantangan sejati yang menguji refleks dan kesabaran.
  • Menyukai genre Metroidvania dan Soulslike.
  • Tidak keberatan dengan Early Access dan ingin menjadi bagian dari proses pengembangan.
  • Menghargai seni dalam keterbatasan (2D dengan kedalaman strategi 3D).

Maka VELASTER adalah mutiara yang belum banyak ditemukan.

Dengan skor ulasan 86% (Sangat Positif) dari 77 pengguna Steam, game ini terbukti telah memikat hati para penikmat genre yang “keras kepala”.

VELASTER mengajarkan kita bahwa kadang-kadang, dengan membatasi diri—membuang semua keramaian kamera 3D, efek-efek berlebihan, dan peta yang terlalu luas—kita justru bisa mendapatkan pengalaman yang lebih intim, lebih intens, dan lebih bermakna.

Selamat bertahan hidup di Malum, para pemberani. Jangan lupa bawa perisai—atau setidaknya, nyali yang besar.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *