Selamat malam, para pasien dan mereka yang berani mempertanyakan suara di kepala sendiri!
Ada satu pertanyaan yang mungkin membuat Anda merenung sebelum tidur malam ini: “Suara mana di kepalaku yang benar-benar layak kupercaya?”
Bukan pertanyaan yang nyaman, bukan? Karena jawabannya sering kali tidak hitam-putih. Tapi di sinilah kita akan bermain hari ini—di wilayah abu-abu antara kewarasan dan kegilaan, antara kepatuhan dan perlawanan.
Izinkan saya membawa Anda ke ruang perawatan. Duduklah. Aturan sudah tertempel di papan tulis. Dan Voice sedang menunggu.
Selamat datang di Obey the Voice™. Jangan lupa: jika mendengar suara selain Voice, abaikan.
Sebuah Kecelakaan, Sebuah Cadangan Kesadaran, dan Sebuah Pilihan
Obey the Voice™ adalah game psychological horror walking simulator garapan svklmrt (seorang pengembang solo) dan diterbitkan oleh Patchwork Interactive. Game ini resmi dirilis di Steam pada 27 Januari 2026.
Premisnya langsung menusuk ke zona paling tidak nyaman di benak kita: Anda adalah pasien dengan Dissociative Identity Disorder (DID) —gangguan identitas disosiatif, atau yang dulu dikenal sebagai “kepribadian ganda”.
Setelah sebuah kecelakaan, kesadaran Anda diunggah ke dalam sistem cadangan digital. Sebuah entitas bernama The Voice bertugas memandu Anda, berusaha mengungkap siapa Anda sebenarnya. Tapi masalahnya… ada suara-suara lain di dalam kepala Anda. Mereka memperingatkan Anda untuk tidak percaya pada The Voice .
Dan di sinilah dilema mulai menggerogoti:
- Apakah suara-suara lain itu hanya bagian dari penyakit yang ingin “mengambil alih” tubuh Anda?
- Atau… apakah The Voice-lah ancaman sesungguhnya?
Game ini tidak akan memberi tahu Anda jawabannya. Anda harus mencarinya sendiri. Sambil terus berjalan. Sambil terus mematuhi aturan. Atau… tidak.
Empat Aturan yang (Seharusnya) Menyelamatkan Nyawa Anda
Seperti kebanyakan game horor psikologis yang baik, Obey the Voice dimulai dengan seperangkat aturan. Tertempel rapi di papan tulis putih. Tegas. Tanpa tawar-menawar.
Berikut empat aturan yang harus selalu diikuti oleh pasien:
- Jika Anda mendengar suara selain The Voice, abaikan.
- Jika Anda menemui makhluk yang Anda yakini bukan manusia, jangan melihatnya. Ia mungkin berusaha menarik perhatian atau mengabaikan Anda. Apa pun yang terjadi, jangan melihat.
- Jika Anda mendeteksi tanda-tanda kehidupan yang telah berpindah tempat, segera putar balik dan tekan tombol merah. Kami akan melenyapkan ancaman dan memindahkan Anda ke bagian baru.
- Segera setelah menyelesaikan tugas yang diberikan, putar balik dan tekan tombol biru. Jangan berlama-lama.
Sederhana, bukan? Tapi di situlah jebakannya.
Seperti diulas oleh NeonLightsMedia, aturan-aturan ini menciptakan ketegangan yang luar biasa. Berjalan di lorong yang sama berulang kali, mengetahui bahwa Anda tidak boleh menengok ke arah sosok mengerikan di sudut ruangan, adalah pengalaman yang jauh lebih mencekam daripada sekadar lari dari monster. Anda harus melawan naluri paling dasar—naluri untuk mengidentifikasi ancaman dengan mata kepala sendiri.
Namun, sayangnya, review yang sama juga mencatat bahwa tidak semua aturan digunakan secara maksimal. Tombol biru, misalnya, nyaris tidak pernah disentuh. “Turn back if something moves” terasa kurang dimanfaatkan. Rasanya seperti pengembang membangun sistem yang kompleks, tapi lupa membuat level untuk separuh dari aturan tersebut.
Monster-Monster di Dalam Kepala Sebuah Terjemahan Trauma
Inilah bagian yang menurut saya paling cerdas dari Obey the Voice.
Setiap monster yang Anda temui—yang Anda dilarang untuk dilihat—bukan sekadar jumpscare acak. Mereka adalah personifikasi dari trauma dan kondisi mental sang protagonis.
Sebuah analisis mendalam dari Destructoid mengupas makna di balik setiap entitas yang hadir:
- Hot and Cold: Sosok berjaket pengekang dengan kepala terbelah. Ini adalah gambaran diri protagonis—seseorang dengan dua pikiran yang saling bertentangan, sementara tubuhnya terikat. Ini mungkin cerminan dari bagaimana pasien ini di dunia nyata dianggap terlalu “tidak stabil” dan “berbahaya”.
- The Voice Says: Sosok perempuan tinggi dengan janin di perutnya. Dia adalah ibunya sendiri. Dibunuh oleh putranya (sang protagonis) dengan pisau dapur yang menusuk perutnya. Sosok ini terpincang-pincang mengikuti Anda di rumah, semakin cepat setiap kali Anda membuat kesalahan. Ini adalah kenangan yang terdistorsi dari insiden pembunuhan itu sendiri.
- Red Light Green Light: Sosok yang sama, tapi kini tangannya menyatu dengan perut—memeluk janinnya. Ini adalah representasi dari tindakan terakhir sang ibu: berusaha menenangkan putranya di saat-saat terakhir kehidupan.
- Morse Code: Sosok bertangan banyak tanpa wajah, hanya memiliki mulut besar yang melengkung mengikuti bentuk tulang rusuk. Ini adalah psike sang protagonis yang terurai, serta ketidakmampuannya untuk melihat trauma secara langsung.
Dan yang paling menarik: ada tiga suara di dalam kepala. The Voice (sosok otoritatif, mungkin terapis atau pengawas prosedur), suara perempuan (yang berusaha membantu dengan melawan dan mempertanyakan setiap perintah), dan suara laki-laki (yang ingin mengendalikan segalanya). Kedua suara ini—yang Anda diperintahkan untuk abaikan—ternyata adalah identitas-identitas terpisah yang hidup berdampingan di dalam diri protagonis. Mereka adalah korban dari insiden yang sama, yang kini mencoba bertahan hidup.
Gameplay Simon Says, Tapi Nyawa Taruhannya
Secara mekanis, Obey the Voice tidak rumit. Anda berjalan. Anda mendengarkan perintah. Anda menyelesaikan tugas. Anda menghindari kematian.
Tugas yang diberikan tidak sesederhana “pergi ke sana, ambil ini”. Ada variasi yang cukup menarik:
- Spot the Difference: Anda berlari di antara dua ruangan, mencari satu benda yang berbeda, sementara timer terus berdetak dan monster mengintai.
- Find the Melody: Anda harus mengidentifikasi lagu tertentu (yang sayangnya tidak memiliki petunjuk visual sama sekali).
- Morse Code: Anda harus mendengarkan dan menerjemahkan sandi morse.
NeonLightsMedia memuji bagian “Spot the Difference” sebagai yang terbaik, dengan atmosfer tegang dan konsep yang segar. Tapi mereka juga mengkritik bagian fuse box—di mana Anda harus meletakkan sekering kecil di lubang yang tepat sambil dikejar monster—sebagai sesuatu yang finicky dan membuat frustrasi, karena hitboxnya terasa “off”.
Durasi, Harga, dan Sistem Singkat, Padat, dan Menggigit
Obey the Voice bukan game yang akan menghabiskan akhir pekan Anda. Dengan durasi sekitar 60-90 menit, ia adalah pengalaman yang pendek namun intens. Harganya sangat bersahabat: $5.19 (sekitar Rp 80.000-an).
Ini adalah game yang bisa Anda selesaikan dalam sekali duduk—seperti menonton film horor yang bagus. Tapi seperti film horor, kualitasnya sangat bergantung pada seberapa kuat ia membangun atmosfer dan seberapa meyakinkan twists-nya.
Di Balik Layar Grafis yang Memukau, Tapi Ada “Luka” di Sana-Sini
Mari bicara jujur tentang kualitas teknisnya.
Sisi positifnya: grafis foto-realistis. Menggunakan Unreal Engine, game ini terlihat sangat indah untuk ukuran proyek solo. Pencahayaannya gelap dan mencekik, lingkungannya terasa “nyata” dalam cara yang membuat kengeriannya terasa lebih personal. Dr. Fortyseven, seorang pengguna di DEF CON Social, memuji sound design dan detail grafis yang sangat baik.
Tapi ada kekurangan yang cukup mengganggu:
- AI Voice Acting: Pengembang secara terbuka mengaku menggunakan AI untuk pengisi suara. Ini adalah keputusan kontroversial. NeonLightsMedia mengkritik hal ini dengan tajam: “Ada ribuan aktor suara berbakat di luar sana yang ingin menembus industri. Banyak dari mereka akan menerima bayaran rendah (atau bahkan gratis) hanya untuk bisa terlibat. Ketika kita mengganti performa manusia dengan audio generatif hanya karena lebih mudah, kita kehilangan sesuatu”. Meskipun suara AI The Voice terdengar pas untuk entitas robotik yang dingin, tetap ada rasa “hollow” yang tidak bisa diabaikan.
- Jumpscare yang “Toothless”: Setelah beberapa kali, jumpscare terasa murahan dan kehilangan taringnya. Jumpscare yang bagus adalah yang earned, bukan yang muncul begitu saja.
- Rasa Tidak Adil: Kadang-kadang, kegagalan terasa tidak adil atau bahkan mustahil dihindari. Ini bisa membuat frustrasi, terutama karena game ini tidak memiliki sistem randomized events yang berarti setiap kematian terasa seperti “kesalahan desain”, bukan “kesalahan Anda”.
- Kegagalan Aksesibilitas: Ini masalah serius. Ada teka-teki yang mengandalkan Morse code dan identifikasi lagu tanpa menyediakan alternatif visual sama sekali. Subtitel yang hanya menampilkan “[Music Playing]” sambil meminta Anda mengidentifikasi lagu tertentu bukanlah solusi. Ini berarti pemain dengan gangguan pendengaran secara fisik tidak bisa menyelesaikan game ini. Di tahun 2026, ini adalah kelalaian yang tidak bisa dimaafkan.
- Tombol Pause yang Bohong: Ini detail kecil tapi mengganggu. Jika Anda membuka menu, game tetap berjalan di latar belakang. Anda bisa kehilangan dialog penting hanya karena ingin mengganti pengaturan. Ini bukan hanya merepotkan—ini adalah desain yang ceroboh.
Spoiler Ringan Penjelasan Ending (Tanpa Membocorkan Terlalu Banyak)
Bagi Anda yang penasaran dengan arah cerita tanpa ingin terlalu banyak spoiler, saya akan coba menjelaskan secara singkat.
Spoiler! (Tapi ringan)
Pada akhir prosedur, The Voice menyimpulkan bahwa pasien sedang dikendalikan oleh “aggressive persona” —pelaku sejati dari insiden kekerasan.
Tujuan prosedur ini mungkin adalah untuk menggambar keluar aggressive persona dan memisahkan identitas-identitas lain yang tidak bersalah selama insiden. Ironisnya, identitas-identitas yang tidak bersalah ini dihapus dari kesadaran pasien.
Yang tersisa hanyalah yang bersalah.
Dan dengan hanya satu identitas yang tersisa, tugas untuk menghukumnya menjadi lebih mudah.
Ini adalah akhir yang suram dan sinis. Ini menanyakan pertanyaan yang tidak nyaman: Apakah sistem ini benar-benar peduli pada penyembuhan? Atau hanya mencari seseorang untuk disalahkan?
Apakah Harus Mematuhi The Voice? (Kesimpulan)
Obey the Voice™ adalah game yang sangat sulit saya rekomendasikan secara bulat.
Ia memiliki konsep yang brilian—menggabungkan horor psikologis dengan representasi DID dan kritik terhadap sistem “perawatan” yang otoriter. Ia memiliki grafis yang memukau dan atmosfer yang mencekik. Ia menawarkan pengalaman yang pendek namun intens dengan harga yang sangat terjangkau.
Tapi ia juga memiliki cela yang tidak bisa diabaikan: AI voice acting yang kontroversial, kegagalan aksesibilitas yang serius, jumpscare yang murahan, dan teka-teki yang kadang terasa tidak adil.
BELI jika:
- Anda penggemar keras game horor psikologis dan ingin pengalaman yang berbeda.
- Anda tertarik dengan eksplorasi DID dan trauma dalam medium game.
- Anda tidak masalah dengan durasi pendek dan ingin “film horor interaktif” murah meriah.
- Anda bisa mentolerir AI voice acting dan beberapa kekasaran teknis.
LEWATI dulu jika:
- Anda mencari game dengan gameplay yang halus dan dipoles dengan baik.
- Anda memiliki gangguan pendengaran (karena teka-teki audionya tidak bisa dilewati).
- Jumpscare membuat Anda lebih kesal daripada takut.
- Anda secara moral keberatan dengan penggunaan AI untuk menggantikan aktor suara.
Obey the Voice mengajarkan kita bahwa terkadang, suara yang paling berbahaya bukanlah yang berbisik di telinga Anda, melainkan yang dengan tegas berkata: “Percayalah padaku, aku tahu yang terbaik untukmu.”
Apakah Anda akan mematuhi The Voice? Atau akankah Anda mendengarkan bisikan-bisikan lain yang memperingatkan Anda?
Pilihan ada di tangan Anda. Tapi ingat aturan nomor satu.
Jangan lupa: tombol pause di game ini tidak benar-benar menjeda. Jadi jika Anda perlu istirahat… matikan saja monitornya. Atau lebih baik, keluar dari ruangan itu sebelum Anda mendengar suara lain.