Selamat malam, para pencari cerita dan mereka yang berani menatap sisi kelam kemanusiaan.
Ada satu pertanyaan yang mungkin terus menghantui Anda saat membaca artikel ini: “Sanggupkah saya menghadapi bayangan saya sendiri?”
Bukan bayangan dalam cermin, melainkan bayangan dari niat terdalam yang bahkan kadang kita malu mengakuinya pada diri sendiri.
Hari ini, saya ingin mengajak Anda masuk ke dalam sebuah rumah tua. Bukan rumah hantu biasa dengan hantu berambut panjang atau pocong yang melompat-lompat. Ini adalah rumah yang lebih menyeramkan karena ia memantulkan kembali ke wajah kita apa yang paling kita takuti: keserakahan, rasa bersalah, dan mungkin… dendam.
Selamat datang di SHE WAS 98.
Duduklah, tarik napas dalam-dalam, dan mari kita mulai perjalanan yang tidak akan mudah dilupakan.
Sekilas Tentang Penghuni Rumah Seorang Cucu dengan Motif Tersembunyi
SHE WAS 98 adalah game first-person psychological horror garapan studio indie N4bA dan Notex, yang resmi hadir di Steam pada 14 Januari 2026.
Di permukaan, premisnya terdengar sederhana: Anda adalah seorang cucu yang kembali ke rumah neneknya yang sudah berusia 98 tahun untuk merawatnya. Nenek Anda didiagnosis demensia (pikun). Rumahnya sudah rapuh, lembap, dan dipenuhi bau kapur barus. Keluarga lain sudah lama menjauh. Hanya Anda yang tersisa.
Tapi tunggu.
Mengapa Anda benar-benar pulang?
Game ini tidak takut untuk mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman. Apakah Anda datang karena rasa tanggung jawab sebagai cucu? Atau karena… Anda berharap warisan rumah setelah ia tiada?
Anda bisa berbohong pada diri sendiri. Tapi game ini tidak akan membiarkan Anda lari dari kebenaran.
“Nenek Berperilaku… Aneh”
Premis ini terdengar seperti drama keluarga biasa. Tapi dari situlah ketidaknyamanan mulai merayap.
Setiap malam, Anda memberi nenek obat penenang sesuai resep dokter. Lalu Anda tidur. Tapi di tengah malam, Anda terbangun oleh suara langkah kaki di balik dinding. Suara gesekan. Suara bisikan yang tidak jelas asalnya. Suara yang seharusnya tidak mungkin dihasilkan oleh seorang perempuan berusia 98 tahun dengan tubuh ringkih.
Dan ketika Anda melihat nenek di pagi hari, kadang-kadang ia menatap Anda dengan mata yang tidak mengenali siapa Anda. Tapi di waktu lain… ia menatap Anda seolah-olah Anda adalah orang lain. Bukan cucunya. Tapi seseorang yang pernah ia kenal—mungkin seseorang yang ia benci.
Lalu pertanyaan yang mulai mengusik benak Anda: “Apakah ini efek samping demensia? Atau ada sesuatu… yang tidak manusiawi di rumah ini?”
Game ini dijuluki oleh pengembangnya sebagai cerita tentang “ketakutan, keserakahan, dan pembalasan”. Dan dari tiga kata itu, “pembalasan” adalah yang paling membuat saya merinding. Karena berarti, apa pun yang terjadi di rumah tua ini, itu bukan sekadar kebetulan.
Gaya Bermain Berjalan, Merasakan, Ketakutan
SHE WAS 98 masuk dalam genre yang sering disebut sebagai “walking simulator”. Jangan berharap ada sistem pertarungan yang rumit, senjata untuk melawan hantu, atau puzzle-puzzle ala Resident Evil.
Di sini, yang Anda lakukan adalah:
- Berjalan menyusuri lorong-lorong rumah yang remang-remang.
- Mengamati setiap sudut—gambar di dinding, coretan di kertas, barang-barang yang tidak pada tempatnya.
- Mendengarkan—karena suara adalah salah satu elemen paling menakutkan di game ini.
Game ini mengandalkan atmosfer untuk menciptakan rasa takut. Bukan jumpscare murahan yang tiba-tiba muncul. Tapi ketegangan yang merayap perlahan—rasa tidak nyaman yang terus menumpuk sampai Anda merasa bahwa ada sesuatu yang selalu mengawasi dari balik dinding.
Para pengembang menjanjikan kualitas suara yang tinggi dan visual yang realistis untuk menenggelamkan Anda dalam pengalaman ini. Dari tangkapan layar yang beredar, nuansa rumah tua yang lembap dan gelap tergambar dengan cukup meyakinkan.
Kekuatan Game Ini Cerita yang Menggali Rasa Bersalah
Bagi saya, daya tarik utama SHE WAS 98 bukanlah pada horornya, melainkan pada pertanyaan moral yang diajukannya.
Kita semua punya anggota keluarga lanjut usia. Kita semua mungkin pernah, dalam keheningan, membayangkan apa yang akan terjadi ketika mereka tiada. Dan di dalam hati paling dalam, kadang ada pikiran egois yang muncul: “Apa yang akan saya dapatkan?”
Game ini membawa pikiran egois itu ke permukaan dan membuat Anda menghadapinya secara langsung.
Setiap langkah di rumah itu, setiap suara yang terdengar di malam hari, bisa jadi bukanlah hantu yang mengejar Anda. Bisa jadi itu adalah suara hati nurani Anda sendiri—yang mulai menjerit karena ia tahu bahwa niat Anda tidak sepenuhnya tulus.
Saya ingat sebuah pepatah: “Rumah yang dihuni oleh niat buruk tidak akan pernah menjadi tempat yang damai.”
Dan rumah nenek Anda di game ini adalah bukti nyata dari pepatah itu.
Spesifikasi dan Ketersediaan Jangan Remehkan, Anda Butuh Mesin Canggih
Meskipun ini adalah game indie dari studio kecil, spesifikasi yang diminta cukup tinggi untuk ukuran game horor bergenre walking simulator. Berdasarkan informasi dari Steam, minimum requirement yang disarankan adalah:
- Prosesor: AMD Ryzen 5 / Intel i5
- RAM: 16 GB
- Grafis: NVIDIA RTX 3050
Namun, beberapa sumber menyebutkan spesifikasi yang lebih rendah: GTX 1060 untuk minimum dan GTX 1070 untuk rekomendasi. Jadi mungkin ada perbedaan informasi—tapi lebih baik persiapkan PC dengan spesifikasi menengah ke atas agar pengalaman bermain Anda tidak terganggu.
Ukuran game sekitar 5-10 GB, jadi tidak akan membebani penyimpanan Anda.
Harga di Steam sekitar ¥29.99 (Yuan) atau setara dengan harga yang cukup ramah di kantong—apalagi jika Anda membelinya saat diskon. Pada pertengahan Mei 2026, tercatat pernah diskon 30% menjadi sekitar ¥20.99.
Catatan Penting Game Ini Belum Punya Ulasan Massal (Jadi Anda Bisa Jadi Perintis!)
Satu hal yang perlu saya sampaikan: karena game ini masih sangat baru (rilis Januari 2026) dan diproduksi oleh developer indie kecil, belum ada ulasan berbahasa Indonesia yang masif di Steam atau platform lain.
Ini adalah pedang bermata dua.
Sisi positifnya: Anda bisa menjadi salah satu yang pertama merasakan pengalaman ini. Tidak ada spoiler besar yang beredar. Anda masuk ke dalam rumah itu dengan pikiran yang benar-benar bersih—hanya bermodalkan sinopsis dan rasa penasaran.
Sisi negatifnya: Karena minim ulasan, Anda tidak bisa sepenuhnya tahu apakah game ini memiliki bug yang mengganggu atau tidak. Anda harus siap menjadi “beta tester dadakan” yang rela melaporkan sendiri masalah yang ditemukan.
Tapi bukankah itu bagian dari petualangan?
Lagipula, untuk game dengan harga semurah ini, mengambil risiko mungkin sebanding dengan pengalaman unik yang ditawarkan.
Kekurangan yang Perlu Diwaspadai (Berdasarkan Genre-nya)
Karena belum ada ulasan pemain yang komprehensif, saya akan berbicara berdasarkan karakteristik game sejenis (walking simulator horor):
- Kecepatan Lambat: Ini bukan game untuk Anda yang suka action cepat. Anda akan berjalan, melihat, dan mendengarkan lebih banyak daripada “bermain” dalam arti tradisional.
- Potensi Repetisi: Karena gameplay-nya sangat sederhana, bisa jadi ada bagian yang terasa membosankan jika ceritanya tidak cukup kuat untuk membawa Anda.
- Tidak Ada Mekanisme Pertarungan: Jika Anda tipe pemain yang ingin “melawan balik” ketakutan, game ini tidak menyediakan itu. Satu-satunya senjata Anda adalah keberanian untuk terus melangkah maju.
- Durasi Mungkin Pendek: Game walking simulator biasanya bisa diselesaikan dalam 2-4 jam. Jangan harap bisa menghabiskan puluhan jam di sini.
Sebuah Undangan untuk Berdamai dengan Dosa Sendiri
SHE WAS 98 adalah game yang tidak cocok untuk semua orang. Bukan karena ia terlalu menyeramkan dengan gambar-gambar mengerikan, tetapi karena ia mungkin terlalu jujur tentang sisi gelap manusia.
Setiap dari kita punya rahasia kecil. Setiap dari kita pernah, dalam hati, memiliki niat yang tidak sepenuhnya suci. Game ini seolah-olah berkata, “Bagaimana jika rahasia itu hidup? Bagaimana jika ia mulai berbisik di telinga Anda setiap malam?”
BELI jika:
- Anda menyukai game dengan cerita yang dalam dan nuansa psikologis yang kuat.
- Anda tidak masalah dengan gameplay lambat yang mengutamakan eksplorasi dan atmosfer.
- Anda ingin menjadi salah satu orang pertama yang merasakan game horor indie potensial.
- Anda punya hati yang cukup kuat untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan tidak nyaman tentang moralitas Anda sendiri.
LEWATI dulu jika:
- Anda lebih suka game horor dengan banyak aksi dan jumpscare.
- Anda mudah bosan dengan game yang minim interaksi.
- Anda tidak punya toleransi terhadap bug atau masalah teknis (karena game indie baru).
SHE WAS 98 mengajarkan kita bahwa di dalam rumah yang paling sunyi sekalipun, rahasia paling kelam bisa bersembunyi. Dan kadang-kadang, rahasia itu bukan tentang orang lain. Rahasia itu tentang kita yang melihat ke cermin setiap pagi.
Apakah Anda berani masuk ke dalam rumah itu?
Atau… jangan-jangan, Anda sudah berada di dalamnya sejak lama, dan baru sekarang menyadarinya?